Musyrifah yang Berkah: Benchmarking Kader Pesantren Tebuireng di Ma’had UIN Kediri
Rabu, 17 Juni 2026 Ma’had al-Jami’ah Darul
Hikmah UIN Syekh Wasil Kediri menerima kunjungan peserta Diklat Kader Pembina
Pesantren Tebuireng Jombang. Sebanyak 37 orang terdiri dari peserta diklat 31
orang perempuan, didampingi 6 pengelola dan 2 pembina dari Resimen Induk Kodam
(Rindam) V Brawaijaya Kota Malang. Kunjungan terbagi dua sesi, observasi
kegiatan asrama Ma’had al-Jami’ah saat pertama kedatangan, yang dilanjutkan
dengan sesi sharing informasi dan pengelolaan pembinaan santri di ruang
pertemuan Gedung Perkuliahan Terpadu (Gedung R). Kunjungan ini merupakan sesi
penutup dan outclass setelah materi pembekalan inclass selama hampir dua bulan
di Balai Diklat Pesantren Tebuireng.
Imam Toha Masyhuri selaku Kepala Diklat
Kader Pesantren Tebuireng menyampaikan tujuan kunjungan ingin menggali pola
pembinaan santri dan juga rekrumten serta penyiapan pembina (musyrifah)nya di
Ma’had Darul Hikmah UIN Syekh Wasil Kediri. Hal ini penting sebagai data
pembanding yang memperkaya secara faktual dan empiris sesuai dengan pengalaman
pembinaan yang ada. Sebagai salah satu ujung tombak pembinaan santri, pembina
santri pesantren Tebuireng perlu mendapatkan pengalaman dalam berbagai latar
belakang santri, termasuk salah satunya dengan latar belakang mahasiswa.
Dalam sambutannya, Kepala UPA Ma’had
al-Jami’ah Ahmad Sholihuddin menyambut baik dan mengapresiasi kunjungan ini
sebagai salah satu upaya memperkuat semangat sesama pembina santri, meski di
level berbeda, santri siswa dan santri mahasiswa. Pembinaan santri di level
mahasiswa di Mahad al-Jami’ah memang sudah dimulai sejak proses seleksi dimana
persyaratan masuk sebagai santri Ma’had al-Jami’ah memiliki ketentuan yang
menuntut komitmen dan kesungguhan menjalani kehidupan santri, seperti fokus dan
sungguh-sungguh pada kegiatan pembelajaran Ma’had, juga tugas dan piket bersama
pada kegiatan di asrama. Hal ini pula yang menjadi salah satu proses seleksi
alam ketika rekrutmen pembina (musyrifah) Ma’had, dimana pembina adalah alumni
Ma’had sebelumnya, disamping melalui psikotes.
Saat sharing session, banyak hal yang
disampaikan oleh peserta, seperti cara pembinaan ke santri yang cenderung
seusia, dan tips mengatasi booring sebagai pembina. Sidanatul Jannah sekretaris
UPA Ma’had mengakui perbedaan dalam menghadapi problematika santri level
pelajar dan mahasiswa. Selama ini musyrifah/pembina menekankan bagaimana saling
menghormati dan bekerja sama sebagai mahasiswa yang dituntut kemandirian dalam
belajar dan beraktifitas. Sedangkan terkait booring, lebih banyak tertolong
dengan padatnya kegiatan di kampus maupun di Ma’had al-Jami’ah.
Di akhir acara, peserta dari Diklat Kader
Pembina Pesantren Tebuireng menampilkan yel-yel penyemangat yang menggaungkan
pentingnya memberikan keteladanan dan pengabdian. Sebagai garda depan yang
membimbing dan membina para santri, pembina atau musyrif/musyrifah dituntut
bukan saja menjalankan tugas sesuai tupoksi, namun juga memberikan contoh
sebagai implementasi ampuh dalam mengawal kedisiplinan santri. Di sinilah
pengabdian akan menghasilkan keberkahan, al-khidmah Miftah al-barakah.



